Peran Pemuda Mencegah Berkembangnya
Paham Intoleransi dan Ekstremisme Berbau SARA di Indonesia
Sumber : Suara Dewata
Pendahuluan
Paham intoleransi dan ekstremisme
merupakan paham mengenai sikap yang berlebihan baik menolak ataupun memihak dalam
hal positif maupun negatif dari pendapat dari orang lain, suatu kelompok, atau
beberapa kelompok. Ekstremisme biasanya dikaitkan dengan keyakinan-keyakinan
yang cenderung menafikan hak orang lain.
Sedangkan
intoleransi, sikap yang tidak bisa menerima sesuatu hal yang berbeda dengan
cara pandang dirinya. Intoleransi bisa dianggap karena berpikir ekstrem karena
cara pandangnya ekstrem sehingga bersikap yang ekstrem kemudian muncul dalam
bentuk sikap dan perilaku intoleran.
Ekstremisme
disebut sebagai cara pandangnya, sedangkan perilakunya disebut intoleransi.
Jadi ekstremisme itu menyangkut cara pandang sedangkan intoleransi adalah
outputnya dalam bentuk sikap sosial. Maka dari itu orang yang intoleran pasti
ekstrem.
Paham
intoleransi dan ekstremisme pun berdampak dengan semakin berkembangluasnya
sentimen/ kekerasan bermuatan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Munculnya
kerusuhan berbalut SARA sangat berpotensi menjadi embrio dari tumbuh suburnya
paham ekstremisme dan radikalisme.
Paham
inilah yang menjadi ancaman laten di Tanah Air. Kekerasan yang bermuatan SARA
jelas akan mengingkari dan mengoyak kebinekaan yang selama ini mati-matian
telah dipertahankan oleh bangsa Indonesia.
Penyebab
Munculnya Ekstremisme dan Intoleransi
Salah satu faktor penyebab orang bisa
menjadi ekstrem karena menanggap apa yang dipahaminya adalah mutlak, terutama
informasi tentang agama. Karenanya, dapat dipahami jika dalam beberapa tahun
terakhir ini kita menyaksikan gelombang masyarakat yang semakin konservatif
dalam hal pemahaman agama. Sebagian mereka bahkan menjadi radikal dengan ikut
melakukan tindakan-tindakan intoleran dan kekerasan.
Pelaku
intoleransi tidak mempunyai kesiapan untuk menerima perbedaan antara keyakinan
dengan kebenaran. Kalau keyakinan itu sikap dan subjektif, kebenaran itu
realitas. Sedangkan kita berusaha memahami supaya kita dekat dengan realitas
itu. Kedekatan orang dengan realitasnya tentu berbeda-beda tergantung tingkat
kebersihan hatinya, tergantung ketajaman nalarnya dan lain sebagainya.
Faktor-faktor
munculnya intoleransi belum tentu sama dengan faktor munculnya ekstremisme
dalam pikiran, karena ada faktor ketika orang tidak berpikir ekstrem tapi ada
faktor-faktor sosial politik ekonomi yang akhirnya membuatnya menjadi intoleran.
Langkah
Kongkret Mencegah
Berkembangnya Paham Intoleransi dan Ekstremisme Berbau SARA
Akhir-akhir ini sentimen intoleransi
terasa semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Pemuda sebagai generasi muda
diharapkan dapat mengambil peran aktif untuk mencegah berkembang-luasnya
sentimen SARA di tengah masyarakat sehingga dapat mencegah berkembangnya paham
intoleransi dan ekstremisme.
Munculnya
sikap dan perilaku intoleran di sebagian masyarakat, perlu mendapat perhatian
ekstra bukan hanya dari kalangan pemuda tetapi diharuskan juga dari aparat
keamanan, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat. Apalagi, saat ini pengaruh
ekstremisme dan radikalisme global mulai menyusup ke Indonesia.
Seluruh elemen masyarakat harus
menyadari ancaman ini. Apalagi, pengaruh paham radikalisme dan ekstremisme dari
luar telah lama disusupkan ke Tanah Air. Ironisnya, paham gerakan ini
menjadikan pelajar dan generasi muda sebagai sasaran.
Hal itu tak lepas dari karakter
kaum muda yang tengah berjuang mencari jati diri. Jiwa muda yang belum mapan
secara mental dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar, menjadi tempat
persemaian yang subur bagi paham ideologi tertentu. Apalagi, jika paham
tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga seolah menawarkan sesuatu yang
dianggap mampu menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi kaum muda saat ini.
Penggunaan media berbasis
internet, juga tak lepas dari kuatnya penetrasi teknologi informasi di kalangan
pelajar dan generasi muda. Ruang penyebaran melalui media sosial dan media
massa berbasis internet seolah tanpa batas dan lebih leluasa.
Hingga kini tak ada aturan yang
sepenuhnya mampu menutup celah penyebaran informasi-informasi yang menyesatkan.
Perlu waktu lama dan upaya ekstra keras dari aparat untuk menyisir satu per
satu situs yang dianggap membahayakan.
Konflik SARA dari paham ekstremisme dan
intoleransi telah meluas di Indonesia. Ada bentrokan, pembunuhan, perampokan,
pencurian, kecemburuan sosial, dan sebagainya. Hal-hal yang dapat dilakukan
pemuda dalam mencegah konflik tersebut sebagai berikut:
1.
Selalu mendekatkan diri kepada Tuhan
Yang Maha Esa
2. Mengendalikan
emosi
3. Jangan
memanggil orang dengan julukan berdasarkan SARA
4. Jangan
menghakimi atau berpikiran negatif tentang suku, agama, ras, dan golongan yang
berbeda
5. Jangan
memaksakan kehendak kepada orang lain
6. Menghormati
dan mengasihi orang lain
7. Melakukan
dan memikirkan hal-hal positif secara bersama.
Penutup
Di
era global sekarang ini sudah semestinya paham ekstremisme dan intoleransi telah
mampu untuk dicegah. Hal ini, dimaksudkan agar kekerasan atau konflik yang
bermuatan SARA dapat diminimalisir sekecil mungkin.
Pemuda
sebagai tonggak generesi bangsa harus berperan penting dalam mencegah agar
tidak terjadinya konflik-konflik SARA tersebut. Tapi bukan berarti negara,
dalam hal ini pemerintah tinggal diam dan hanya memberikan sepenuhnya kepada
pemuda. Pemerintah pun harus mengambil andil di dalamnya demi terciptanya
ketentraman dan keamanan bangsa dan negara Indonesia kita ini.