Kamis, 09 Juli 2020

Peran Pemuda Mencegah Berkembangnya Paham Intoleransi dan Ekstremisme Berbau SARA di Indonesia

Peran Pemuda Mencegah Berkembangnya Paham Intoleransi dan Ekstremisme Berbau SARA di Indonesia
 
Sumber : Suara Dewata
 
Pendahuluan
Paham intoleransi dan ekstremisme merupakan paham mengenai sikap yang berlebihan baik menolak ataupun memihak dalam hal positif maupun negatif dari pendapat dari orang lain, suatu kelompok, atau beberapa kelompok. Ekstremisme biasanya dikaitkan dengan keyakinan-keyakinan yang cenderung menafikan hak orang lain.
Sedangkan intoleransi, sikap yang tidak bisa menerima sesuatu hal yang berbeda dengan cara pandang dirinya. Intoleransi bisa dianggap karena berpikir ekstrem karena cara pandangnya ekstrem sehingga bersikap yang ekstrem kemudian muncul dalam bentuk sikap dan perilaku intoleran.
Ekstremisme disebut sebagai cara pandangnya, sedangkan perilakunya disebut intoleransi. Jadi ekstremisme itu menyangkut cara pandang sedangkan intoleransi adalah outputnya dalam bentuk sikap sosial. Maka dari itu orang yang intoleran pasti ekstrem.
Paham intoleransi dan ekstremisme pun berdampak dengan semakin berkembangluasnya sentimen/ kekerasan bermuatan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA). Munculnya kerusuhan berbalut SARA sangat berpotensi menjadi embrio dari tumbuh suburnya paham ekstremisme dan radikalisme.
Paham inilah yang menjadi ancaman laten di Tanah Air. Kekerasan yang bermuatan SARA jelas akan mengingkari dan mengoyak kebinekaan yang selama ini mati-matian telah dipertahankan oleh bangsa Indonesia. 
 
Penyebab Munculnya Ekstremisme dan Intoleransi
Salah satu faktor penyebab orang bisa menjadi ekstrem karena menanggap apa yang dipahaminya adalah mutlak, terutama informasi tentang agama. Karenanya, dapat dipahami jika dalam beberapa tahun terakhir ini kita menyaksikan gelombang masyarakat yang semakin konservatif dalam hal pemahaman agama. Sebagian mereka bahkan menjadi radikal dengan ikut melakukan tindakan-tindakan intoleran dan kekerasan.
Pelaku intoleransi tidak mempunyai kesiapan untuk menerima perbedaan antara keyakinan dengan kebenaran. Kalau keyakinan itu sikap dan subjektif, kebenaran itu realitas. Sedangkan kita berusaha memahami supaya kita dekat dengan realitas itu. Kedekatan orang dengan realitasnya tentu berbeda-beda tergantung tingkat kebersihan hatinya, tergantung ketajaman nalarnya dan lain sebagainya.
Faktor-faktor munculnya intoleransi belum tentu sama dengan faktor munculnya ekstremisme dalam pikiran, karena ada faktor ketika orang tidak berpikir ekstrem tapi ada faktor-faktor sosial politik ekonomi yang akhirnya membuatnya menjadi intoleran.

Langkah Kongkret Mencegah Berkembangnya Paham Intoleransi dan Ekstremisme Berbau SARA
Akhir-akhir ini sentimen intoleransi terasa semakin mengkhawatirkan. Oleh karena itu, Pemuda sebagai generasi muda diharapkan dapat mengambil peran aktif untuk mencegah berkembang-luasnya sentimen SARA di tengah masyarakat sehingga dapat mencegah berkembangnya paham intoleransi dan ekstremisme.
Munculnya sikap dan perilaku intoleran di sebagian masyarakat, perlu mendapat perhatian ekstra bukan hanya dari kalangan pemuda tetapi diharuskan juga dari aparat keamanan, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat. Apalagi, saat ini pengaruh ekstremisme dan radikalisme global mulai menyusup ke Indonesia.
Seluruh elemen masyarakat harus menyadari ancaman ini. Apalagi, pengaruh paham radikalisme dan ekstremisme dari luar telah lama disusupkan ke Tanah Air. Ironisnya, paham gerakan ini menjadikan pelajar dan generasi muda sebagai sasaran.
Hal itu tak lepas dari karakter kaum muda yang tengah berjuang mencari jati diri. Jiwa muda yang belum mapan secara mental dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh luar, menjadi tempat persemaian yang subur bagi paham ideologi tertentu. Apalagi, jika paham tersebut dikemas sedemikian rupa sehingga seolah menawarkan sesuatu yang dianggap mampu menjadi solusi atas persoalan yang dihadapi kaum muda saat ini.
Penggunaan media berbasis internet, juga tak lepas dari kuatnya penetrasi teknologi informasi di kalangan pelajar dan generasi muda. Ruang penyebaran melalui media sosial dan media massa berbasis internet seolah tanpa batas dan lebih leluasa.
Hingga kini tak ada aturan yang sepenuhnya mampu menutup celah penyebaran informasi-informasi yang menyesatkan. Perlu waktu lama dan upaya ekstra keras dari aparat untuk menyisir satu per satu situs yang dianggap membahayakan.
Konflik SARA dari paham ekstremisme dan intoleransi telah meluas di Indonesia. Ada bentrokan, pembunuhan, perampokan, pencurian, kecemburuan sosial, dan sebagainya. Hal-hal yang dapat dilakukan pemuda dalam mencegah konflik tersebut sebagai berikut:
1.      Selalu mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa
2.      Mengendalikan emosi
3.      Jangan memanggil orang dengan julukan berdasarkan SARA
4.      Jangan menghakimi atau berpikiran negatif tentang suku, agama, ras, dan golongan yang berbeda
5.      Jangan memaksakan kehendak kepada orang lain
6.      Menghormati dan mengasihi orang lain
7.      Melakukan dan memikirkan hal-hal positif secara bersama.

Penutup
Di era global sekarang ini sudah semestinya paham ekstremisme dan intoleransi telah mampu untuk dicegah. Hal ini, dimaksudkan agar kekerasan atau konflik yang bermuatan SARA dapat diminimalisir sekecil mungkin.
Pemuda sebagai tonggak generesi bangsa harus berperan penting dalam mencegah agar tidak terjadinya konflik-konflik SARA tersebut. Tapi bukan berarti negara, dalam hal ini pemerintah tinggal diam dan hanya memberikan sepenuhnya kepada pemuda. Pemerintah pun harus mengambil andil di dalamnya demi terciptanya ketentraman dan keamanan bangsa dan negara Indonesia kita ini.
Continue reading Peran Pemuda Mencegah Berkembangnya Paham Intoleransi dan Ekstremisme Berbau SARA di Indonesia